Kalau Aku Punya Aksen Lokal, Tak Bolehkah Aku Bicara Bahasa Global?

by - November 29, 2018

“Logatmu loh mbak Jawa banget”

“Yaampun cara ngomongmu Indonesia banget sih, Sin”

Indonesia adalah negara yang peduli satu sama lain. Dengan demikian, sangat biasa apabila seseorang berkomentar atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Hal ini ditunjukkan pula dalam kepedulian para kebanyakan masyarakat Indonesia atas tingkat kemampuan seseorang dalam berbicara menggunakan bahasa Internasional, yaitu Bahasa Inggris.

Dalam suatu hal, seseorang memuji orang lainnya karena orang tersebut dapat berbahasa Inggris dengan baik. Alasannya memang jelas, orang tersebut bisa berbicara seperti native. Berbicara dengan cepat, pronounciation yang tepat, dan aksen (British/America/Aussie) yang dimilikinya. Itulah definisi dari orang yang pintar berbahasa Inggris. Betul memang orang tersebut layak untuk dipuji karena kehebatannya dalam berbahasa yang bukan bahasa ibunya. Itu sumbu ekstrim omongan yang pertama.

Di suatu kondisi ekstrim yang berkebalikan, terdapat seseorang yang berkata kepada temannya yang mencoba untuk berbicara bahasa Inggris, “Bahasa Inggris kamu jelek banget sih”. Hal itu diucapkan kepada orang yang mencoba berbicara bahasa Inggris namun terbata-bata, salah grammar, dan tidak memiliki aksen.

Di samping pentingnya bahasa Inggris untuk komunikasi internasional. Kepedul
ian dengan komentar pada masing-masing sumbu ekstrim itulah yang akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang dalam keberanian untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Internasional pada masyarakat Indonesia. Menurutku.

***

Patut diapresiasi ketika seseorang di negara English as Foreign Language (EFL) bisa berbicara bahasa Inggris. Mengingat bahasa Inggris bukanlah bahasa sehari-hari mereka. Indonesia sebagai Negara EFL tentu saja menjadikan para warganya perlu berusaha keras untuk bisa menguasai bahasa tersebut. Itulah mengapa sejak TK, bahasa Inggris sudah dikenalkan, dan banyak sekali anak-anak yang meluangkan waktunya untuk mempelajari Bahasa Inggris seusai sekolah di lembaga kursus. Bagaimanapun, di Indonesia tersendiri, setiap penduduk yang duduk di bangku sekolah, pasti pernah masuk ke kelas Bahasa Inggris. Mereka pernah belajar secara formal di kelas bahwa Good Morning adalah Selamat Pagi.

Hal itu membuatku menganggap bahwa orang Indonesia secara umum pasti bisa berbahasa Inggris. Mereka mengetahui beberapa kata, struktur dasar tata bahasa, dan cara membacanya (pronounciation).  Namun mengingat belajar bahasa haruslah diikuti dengan praktik yang sebenarnya, maka akan menjadi masalah ketika kita belajar bahasa namun tidak pernah menggunakannya dalam komunikasi.
Itulah yang terjadi di Indonesia menurutku, banyak orang yang tidak memiliki keberanian untuk berbicara dengan orang asing menggunakan bahasa Inggris. Ketidakberanian tersebut tidak menutup kemungkinan hal itu disebabkan oleh suatu pandangan kalau berbicara bahasa Inggris haruslah seperti orang yang berada di sumbu ekstrim pertama: Berbicara cepat, pronounciation tepat, dan utamanya aksen seperti native. Menurutku.

***

Hal itu terjadi pada diriku sendiri, aku  pernah merasakan bagaimana aku malu untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Padahal aku banyak mengikuti kursus setiap pulang sekolah. Alasannya karena aku takut salah, aku malu untuk tidak berbicara dengan aksen yang bagus. Namun semuanya berubah ketika aku masuk ke klub debat bahasa inggris ketika SMA, coach ku menyadarkanku betapa yang terpenting adalah kemampuanku untuk dapat menyampaikan gagasan di otakku. Berlatih setiap hari, sambil coach terus membenarkan ketika ada vocabulary yang aku tidak tahu dan grammarku salah. Jadilah aku English debater hingga awal perkuliahan.

Masalah belum berakhir, karena aku hanya bisa berbahasa Inggris dalam debat, tidak untuk melakukan percakapan sehari-hari. Aku masih merasa canggung untuk bercakap-cakap dengan nyaman. Vakum di klub debat sekarang, membuatku merasa malu lagi untuk berbicara bahasa Inggris. Tidak ada coach dan teman-teman dalam klub yang membuatku tetap berani berbicara dengan bahasa Inggris seadanya ini. Jadilah aku yang paling diam ketika aku mengikuti international conference tahun 2016, aku hanya bisa berbicara public speaking menggunakan bahasa Inggris, tidak untuk menyapa pemakalah lainnya.

Semua berlalu hingga detik ini. Di Tokyo. Tak ada pilihan lain untuk tidak berbicara dengan bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan orang lain, walaupun sebenarnya pilihan terakhir, karena aku seharusnya berbicara menggunakan bahasa Jepang. Namun disinilah titik dimana aku benar-benar berani untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris bagaimanapun terbatasanya kemampuanku.

***

Untuk sampai ke titik dimana aku nyaman berbicara dengan bahasa Inggris dalam kehidupan tentu tidaklah mudah. Sangat sering aku mendengar dari orang lain atas keberanianku untuk berbicara dengan kemampuan terbatasku ini, meskipun aku di Jepang, tentunya komentar dari orang Indonesia:

“Logatmu loh mbak Indonesia banget”

Sebuah statement yang mungkin biasa, namun bagiku, itu memiliki dampak besar dalam kemajuan orang.

Sebagai aku yang selalu peduli dengan omongan orang lain, pernyataan seperti itu memiliki makna yang tak pantas menurutku. Sebuah makna yang menyiratkan bahwa kalau aku tak memiliki aksen seperti native, maka aku tak pantas untuk berbicara bahasa tersebut. Itulah mungkin alasan mengapa banyak orang Indonesia menganggap dirinya tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, karena ia merasa tidak memiliki aksen layaknya seorang native.

Bagiku dalam bahasa, yang terpenting adalah pengetahuan tentang kata (vocabulary), tata bahasa dasar (grammar, dan pengucapan (pronounciation). Vocab dan grammar sudah banyak dipelajari di kelas, namun memang tak jarang pronounciation yang benar masih butuh banyak waktu untuk belajar. Namun bukan berarti kita tak boleh berbicara suatu bahasa apabila tidak menguasai ketiganya walaupun itu memang kunci dasar untuk berbicara bahasa asing.

Namun yang menyebalkan terletak pada keharusan untuk memiliki aksen yang persis seperti native. Bagiku itu sangatlah sulit untuk dimiliki. Bukan berarti tidak bisa, namun proses mencapainya butuh frekuensi yang tinggi untuk mempelajari dan bergaul di lingkungan native itu sendiri. Hal inilah yang menjadikanku sebagai orang Indonesia kesulitan untuk memiliki logat native.

Bukan berarti aku menganggap memiliki aksen native tidak penting. Namun memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada dalam otak kita dan dapat membuat orang lain bisa paham adalah yang terpenting. Aku rasa, ketika aku melihat pidato presiden atau menteri keuangan dalam bahasa Inggris, mereka tidak memiliki aksen tertentu. Namun jelas kan kalau ibu Sri Mulyani pernah kuliah di Amerika dan sering melakukan komunikasi internasional di forum internasional penting.

Sebisa mungkin belajarlah suatu bahasa sesuai dengan karakteristik bahasa itu sendiri. Itu dia mungkin bagi orang yang menekuni bidang sastra suatu bahasa, haruslah ia dapat menguasai bahasa hingga ke aksennya. Namun bagi kalian yang tidak, tak ada salahnya untuk fokus berani berkomunikasi dan terus belajar memperbaiki.

Kalau memang logatku begini, aku akan tetap terus berkomunikasi, dengan orang Indonesia dan seluruh orang di berbagai belahan dunia.

Bahasa adalah alat komunikasi
Bukan harus selalu terdengar seperti orang native asli
Selama lawan bicara kita mengerti
Mengapa berbicara bahasa global harus tidak berani?

Salam,
Sintia

You May Also Like

0 comments

Instagram