Mengapa Sintia Menikah Muda?

by - July 20, 2018


“Ya aku mau jadi pacar kamu”

Aku mengatakan itu, pada kak Irfan, saat aku masih menjadi mahasiswa baru. Bagi keluargaku yang memegang teguh agama, tentu pilihan untuk pacaran adalah hal yang sangat salah. Aku pun menyembunyikannya lama hingga ketahuan sih pada akhirnya.

Namun satu hal yang aku lucu, teman-temanku tidak menyalahkanku ketika mereka tahu aku pacaran di umur 17 tahun. Pertanyaan bertubi-tubi malah muncul ketika aku memilih untuk menikah dengan Kak Irfan, kekasihku, di usia 21 tahun.

“Kok nikah muda sih?”
“Percuma pinter, juara dimana-mana, baru lulus langsung nikah”
“Kamu gak mau bahagiakan orangtua mu dulu apa, kok masih muda udah nikah?”

Dan banyak pertanyaan yang membuat aku jadi bingung dengan pilihanku mengiyakan ajakan kak Irfan ke jenjang yang serius ini.
x

Menikah memang bukan perkara mudah. Menikah adalah pilihan hidup. Komitmen untuk menikah adalah komitmen besar. Menikah adalah pilihan sekali seumur hidup, membuat kita harus siap untuk tinggal bersama dengan orang yang kita pilih, menerima kekurangan yang dimiliki, dan menerimanya selamanya. Katanya menikah itu sangat sulit karena banyak tanggung jawab yang harus dijalani. Jujur aku tidak banyak tahu tentang menikah dalam definisi yang dipersulitkan itu.

Aku mendefinisikan bahwa menikah itu adalah suatu ikatan dimana aku dan kak Irfan bersatu dalam ikatan yang halal menurut agama dan akan berjuang menjalani hidup bersama-sama selamanya
Sudah, itu saja. Definisi berjuang pasti bermakna banyak hal. Intinya aku menganggap menikah adalah perkara yang mudah. Jujur saja aku menikah tanpa menyadari bahwa aku belum pernah masak sendiri selama hidup, belum pernah tahu bagaimana membereskan rumah, dan bagaimana harus menjadi istri yang baik, bahkan sampai terpikir jadi seorang ibu kalau aku langsung punya anak.

Sebenarnya ini memang salah. Zaman sekarang, menikah muda memang banyak digaungkan. Teman-temanku sejak mahasiswa bahkan telah belajar ilmu parenting, dan persiapan sebelum menikah lainnya. Jujur aku merasa masih kecil kalau memikirkannya. Namun ketika aku melihat betapa aku sangat menyayangi orang yang telah aku jadikan sebagai pacar selama kuliah itu, aku tak sanggup lagi melihat hubungan ini terus-terusan tidak mengenakkan di hati mama dan ayah. Tentu orang tuaku takut dengan segala fitnah yang ada di dunia yang semakin rusak ini. Aku juga menyadari bahwa berpacaran adalah pilihan yang salah. Aku harus mengakhirinya, dengan menikah.

Berkaitan dengan karier, aku percaya menikah tidak akan mematikan langkahku menggapai cita-cita.  Kak Irfan sendiri sangat mendukung aku untuk terus maju. Pertanyaannya sekarang, cita-citaku apa?

Aku tahu, semua orang berekspektasi, berkarier itu adalah pergi ke kantor dan mencari uang yang banyak. Jujur saja, cita-citaku adalah menjadi seorang akademisi, menjadi dosen dan aktif penelitian di kampus. Sangat jarang dalam setiap harinya, seorang dosen harus bekerja penuh waktu dan lembur hingga larut malam. Aku tau, aku perempuan, aku menyiapkan bagaimana kehidupanku untuk berkeluarga, dan aku tidak menginginkan kerja full bahkan overtime di luar rumah. Menjalankan fungsi sebagai ibu suatu saat nanti dan tetap bermanfaat untuk ilmu pengetahuan adalah inti dari cita-citaku.

Aku sendiri juga tidak berambisi untuk bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya walaupun aku bukan berasal dari keluarga mampu. Menjadi kaya memang keinginan, tapi tidak harus mengorbankan kehidupanku sebagai seorang istri dan ibu di rumah.  Menjadi akademisi memang jadi cita-citaku dan aku rasa secepatnya aku menemukan jalan untuk mencapainya. (jujur aja kalau sekarang aku stag sih emang wkwk)

Masalah kebahagiaan orangtua, aku pernah menceritakannya singkat di feeds instagram ku. Mama dan ayah mengatakan sejak lama padaku, bahwa kebahagiaan mereka bukan dihitung seberapa banyak aku bisa memberikan uang pada mereka setelah aku dewasa. Orangtuaku hanya berpesan agar aku selalu bisa memberikan manfaat untuk lingkungan sekitar, negara, dan agama. Orangtua ku juga sudah sangat lelah menasihatiku yang tidak mau memutuskan kak Irfan. Aku tahu mereka takut ikut berdosa membiarkan hubunganku. Kak Irfan yang tidak melarangku berkarier dan malah akan menambah pengalamanku dengan mengajakku hidup di Jepang, membuat orangtuaku yakin untuk menyerahkan putrinya kepada kak Irfan. Tanggungan mereka sudah selesai, dan bakti ku akan selalu ku haturkan pada mereka.

Aku bukan akun dakwah yang mengajak semua orang menikah muda. Bagiku menikah itu dilakukan pada waktu yang tepat, dan ketepatan waktunya berbeda antara banyak orang. Aku memang sudah dipertemukan dengan kak Irfan sejak usia 17 tahun, aku rasa memang ini waktunya aku menikah. Menikah itu tidak harus dipaksakan, karena aku tahu, menikah itu juga  mahal. Aku tidak bisa menyangkal, pernikahanku sudah dibuat sesederhana mungkin, masih pengeluaran besar juga. Terlebih menikah tanpa merepotkan finansial orangtua adalah yang hal yang sulit, itulah mengapa kak Irfan berjuang hingga bekerja jauh agar bisa segera merealisasikannya.

Aku tidak pernah sekalipun berkata agar temanku harus segera menyusulku. Bagiku itu tentang kesiapan mereka masing-masing. Namun memang kalau melihat orang yang sudah berpacaran lama sekali dan telah menyelesaikan studinya, rasanya agak aneh kalau mereka terus mempertahankan hubungan pacaran.

Writing my first post in Japan, with Indonesian,
S.

You May Also Like

1 comments

  1. surely, aku bahagia banget waktu dapat kabar kalau kamu mau di lamar sm kak irfan,..
    "Akhirnya temen gua gk bakalan LDR an lagi..."

    ReplyDelete

Instagram