Menjadi Ibu, Istri, dan Wanita Karier: Push Our Limit

by - October 08, 2023

"Kamu harus banyak olahraga Sintia. Kalau tidak begitu, kamu gak pernah push your limit

Kalimat yang sering kak Irfan ucapkan padaku sejak kami pertama menikah.

Ya, jujur saja aku tidak suka olahraga, bahkan membencinya karena merasa aku tidak pernah bisa dan malah sakit pegal pegal habisnya.
Parahnya, kakiku pernah sakit cukup parah di weekend pertama kedatanganku ke Jepang, karena tak kuat berjalan kaki jauh.

Istilah "push your limit" yang sering aku dengar berkaitan dengan dunia olah fisik. Bagaimana pentingnya seseorang untuk berolahraga itu untuk bisa mencapai batasan yang lebih dari fisik yang kita miliki.

Percayalah. Mereka yang bisa lari full marathon 42 km pasti awalnya tidak otomatis langsung bisa punya kekuatan untuk lari terus menerus hingga ujung finish yang panjang sekali itu.

Mereka yang bisa angkat beban hingga ratusan kilogram juga pasti tidak otomatis langsung bisa mengangkat beban seberat itu.

_____

Dari situ, aku pun jadi orang yang...

Masih tetap tidak suka berolahraga. :p

Bagi manusia sepertiku yang dari kecil tidak pernah diolah fisiknya untuk berolahraga, njarem atau nyeri otot pasca berolahraga sangat sering tidak tertahankan. Dan itu membuat aku selalu berhenti untuk terus berusaha. Padahal kak Irfan selalu bilang bahwa nyeri otot tersebut hadir sebagai tanda untuk memperkuat otot kita untuk masuk ke level kekuatan otot yang selanjutnya.

Walau aku tidak menerapkannya dalam dunia olahraga yang sesungguhnya. Aku rasa, setidaknya Sintia yang sekarang bukan seperti Sintia yang pertama kali datang ke Jepang. Aku sudah sangat terbiasa berjalan kaki hingga belasan ribu langkah dalam sehari tanpa sedikitpun nyeri otot setelahnya.

Btw aku tidak menyampaikan ini berdasarkan bukti ilmiah ya. Aku sih percaya saja kak Irfan menyampaikan hal yang benar, karena logikaku dan pengalaman hidupku sepertinya juga menerima konsep itu.

Well, walau sampai detik ini, aku tetap bukan jadi orang yang rutin berolahraga. Tapi pelajaran hidup yang kak Irfan ajarkan dari omelan rutinnya itu mempunya pelaaran hidupyang sangat membekas:

"Tubuh kita punya batasan. Kita sebagai manusia bisa menembus batasan itu dengan berusaha. Tapi bagaimanapun. Pasti akan sakit di awal kita mau naik ke batas selanjutnya"

____

Aku percaya bahwa setiap orang terus menembuh batasan hidup yang mereka miliki setiap harinya.

Selama aku menjadi ibu, aku merasakan sendiri bagaimana tahapan seorang manusia bertumbuh dan berkembang yang terasa sekali bahwa anakku yang terlahir seperti makhluk lemah tak berdaya, terus berusaha dan belajar hingga dia bisa berlari dan mengucapkan perasaannya di usianya yang ke 1.5 tahun ini.

Aku sendiri juga merasakan perubahan yang drastis dalam hidupku. Rasanya kemampuanku di usia ke-26 ini jauh lebih beraneka ragam dibandingkan aku yang dulu.

Aku sudah bisa masak segalanya padahal aku ingat betapa seringnya aku menangis di awal kehidupanku di Jepang karena rasa-rasanya aku tidak bisa bertahan hidup sebab tak mengerti dapur sama sekali.

Menangis. Lelah. Sakit. 

Semua hal yang tidak mengenakkan itu ternyata erat kaitannya dengan proses menuju kehidupan yang lebih baik.

____

Kalau kata orang menjadi ibu beranak satu adalah hal yang sulit.

Kalau kata orang mengawali karier pertama adalah hal yang sulit.

Kalau kata orang mengurus anak tanpa bantuan baby sitter adalah hal yang sulit.

Setidaknya per detik ini, aku telah melewati batasan yang dipersepsikan oleh banyak orang itu. Dan tentu saja melewati batasan yang ada itu tidak mudah.

Aku pasti menangis. Aku pasti lelah. Aku pasti merasakan sakit.

Tapi ketika aku di titik ini dan melihat ke belakang, aku kagum dengan kekuatan yang Allah limpahkan pada manusia. Semua sakit, lelah, dan tangisan itu menjadi titik awal dari kekuatanku untuk menembus batasan yang ada.

Aku jadi ingat. Pantas saja ada ayat yang mengatakan:

"Allah tidak akan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya"

Pada detik ini pun, di saat aku sedang dalam hamil trimester tiga ini, aku masih khawatir dengan kehidupanku yang selanjutnya.

Kata orang punya anak kedua dengan jarak dekat adalah hal yang sulit.

Hmm apalagi aku harus mengkombinasikan anggapan sulit itu dengan anggapan-anggapan sulit lain di atasnya. Tentu saja aku tidak tahu. 
Per detik ini sih, aku masih dalam tahapan menangis meratapi kekhawatiranku di masa depan akan limit yang ada.

Aku hanya berusaha punya keteguhan hati untuk mengatakan, bahwa kesulitan itu akan aku hadapi dengan menembus limit yang ada. Allah pasti memberikan ini semua sesuai dengan kemampuannya bukan. Bismillah semoga Allah membantu.

Walau jujur saja, aku yakin itu akan sangat super berat dan penuh dengan tangisan.

_____

Hmm malah jadi sesi curhat. Intinya sih yang mau aku sampaikan.

Yaa walaupun sekarang sedang banyak digaungkan isu mental health, atau menjaga mental kita agar tetap waras.

Aku tetap merasa bahwa kita perlu percaya dengan kemampuan yang Allah berikan pada manusia untuk bisa menembus batas-batas awal yang Allah tetapkan.

Aku jadi ingat kata Nadhira Nur Afifa ketika dia jadi valedictorian di Harvard:

"Dream High, because our limit is only our mind"

Batasan kita itu memang kadang hanya ada di pikiran kita. Kita sering jadi lebih hebat dari yang kita bayangkan.

Hmm walau mungkin kesannya agak keras sama diri sendiri sih ya. Seakan nantinya mengorbankan kesehatan mental atau apapun itu. Yaa menurutku kita masing-masing tahu batasan kita sendiri dan menyesuaikan seperlunya.

Ada kalanya memang kita perlu beristirahat dan tidak selalu menekan diri kita sekeras-kerasnya.

Misal di awal ketika aku melahirkan Najwa dan trimester satu kehamilan keduaku, rasa-rasanya aku berfokus pada kesehatan mentalku saja dan berpikir nothing to lose dengan kehidupanku selanjutnya.

Tapi setelah masa-masa berat itu terlewati, secara otomatis, aku pun masuk ke fase baru lainnya.

Diam dan beristirahat bagiku juga salah satu proses untuk mencapai limit yang baru, karena memang kita dilahirkan dengan limit. Menyadari adanya limit yang kita punya itu tetap menjadi sangat penting.

Namun, bagaimanapun juga, kita perlu hidup berprogres bukan.

Sampai detik ini, kekuatanku untuk menjadi ibu, istri, sekaligus wanita karier ada di sini:
Allah ada untuk mereka yang mau berusaha.

Bismillah. Semoga setiap tahapan kita untuk menekan batasan yang ada dapat kita jalankan penuh dengan semangat mencapai Ridho Allah tentunya.

You May Also Like

0 comments

Instagram